Dilema Level : Mulai Halusinasi.

16:09


(img by : me)


Sedang berada pada keadaan, dimana melangkah maju dan berbalik arah akan sama jauhnya dan sama menyakitkannya. Menjadi dewasa ternyata bukanlah hal yang mudah. Semakin bertambah usia semakin bertambah pula hal-hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan demi kebaikan semua pihak. Disatu sisi kita mulai menyadari bahwa hidup bukanlah untuk kita sendiri tapi disisi lain kembali terfikir bahwa dilevel manapun tingkat susah dan kadar bahagianya hidupmu, hidup tetaplah kita yang pikul sendiri.

Sisi pertama  yang saya bicarakan diatas adalah satu sisi dimana kita harus menyadari betul bahwa kita hadir didunia ini tidak begitu saja, kita bukan berasal dari biji-bijian, ataupun batang pohon seperti pada dongeng. Kita  terlahir dan utuh sampai saat ini membutuhkan banyak proses usaha dan materi dari semenjak napas pertama sampai pencapaian kita detik ini, proses usaha dan materi yang tidak terlepas dari dua orang yang sudah mendedikasikan separuh hidupnya untuk kita. Lalu setelah sejauh ini, kita dengan begitu saja ingin melupakan seolah tidak pernah terjadi apa-apa? Walau mereka pada dasarnya tulus dan tidak berniat meminta balas. Hanya saja rupanya kita harus mulai berfikir bagaimana cara berterimakasih.

Sisi lainnya adalah diri kita sendiri, dimana kita harus mulai memperhitungkan hal apa yang akan membawa kita ke sisi dunia yang berbeda, tidak stuck hanya di satu tempat dan membuktikan ke orang-orang bahwa ada jalan lain menuju hidup yang bahagia, jalan pilihan kita sendiri, jalan yang mungkin belum pernah di lalui bahkan belum pernah terbayangkan di benak mereka. Maka itu,  karena hanya kita yang mampu membayangkan akan menjadi seperti apa kita nantinya dengan jalan pilihan kita, satu PR besar yang harus mulai di garap adalah proses meyakinkan dan pembuktian, bahwa semua akan baik-baik saja dan kita akan bertanggung jawab dengan jalan yang akan kita pilih.

Namun bagaimana semua akan berjalan lancar kalau semuanya terhenti di proses ini? Jangankan untuk bisa meyakinkan pihak lain, bahkan untuk meyakinkan diri sendiripun sangat sulit rasanya.

Lalu stuck pada keadaan menggantung yang sebenarnya sudah jelas kita sadar dan tahu harus berbuat apa, namun dilema harus memulai melangkah masuk dari pintu sebelah mana. Berdiri di depan dua pintu  yang setelah kita masuki tidak diperkenankan untuk berbalik dan memilih lagi.

Terlepas dari seberapa berat atau ringan hidupmu saat ini, kamu harus selalu mengikutcampurkan Tuhan. Meski proses pendekatannya tidak mudah, Tuhan merupakan satu kunci utama. Turunkan ego. Kita hanya manusia hina, yang tidak ada apa-apanya di dunia.

Saya mungkin tidak punya andil untuk mencampuri hubunganmu dan Tuhan tapi saya sedang berbicara pada diri saya sendiri, berbicara pada sisi negatif pada diri saya, sisi negatif yang sudah mulai menguasai hampir seluruh jiwa saya.


Get well soon, ifmi. 

You Might Also Like

1 comments

  1. great writing! think it can be longer than this? would love to read it more

    ReplyDelete

Flickr Images

Subscribe