Do You Hate Me? Good. I Hate Me To ...
16:29![]() |
| Img by me |
Saat saya
meminta kepada Tuhan untuk menempatkan saya pada hidup yang tidak monoton, lalu
kemudian saya berada pada hidup yang berfluktuasi dengan sakarep e dewe, dimana seluruh rithme di kuasai penuh oleh diri
sendiri, melawan arus dengan memegang kemudi sendiri tanpa kompas, tanpa
menguasai rasi bintang. Lalu perlahan semua terasa menakutkan, terasa mencekam,
terasa berguncang yang terlalu, semain kearah sini, semuanya menjadi lebih
gelap dan semakin dingin. Lalu kemudian mulai ragu dan berfikir akan kebenaran
jalan hidup yang saya pilih. Dengan menangis lalu memohon dan kembali meminta
pada Tuhan untuk menempatkan saya pada hidup yang tenang, dan tidak berombak, mempercayakan
kemudi dalam kendali orang yg (katanya) ahli, padahal who knows? Lalu sekarang rasa-rasa takut, rasa mencekam, jalan
gelap dan udara dingin waktu lalu kembali menyeruak, bahkan lebih menyakitkan. Menyadari
rasa itu bisa datang kapan saja, menyadari bahwa kamu tidak bisa mempercayakan
kehidupanmu pada orang lain selain dirimu sendiri, menyadari bahwa kamu harus
bisa berdiri di atas kaki sendiri, hidup tanpa ketukan nada yg berarti, stuck pada
jalan yang begini-begini saja, rindu memegang kemudi, dan melawan arus,
bukankah hanya ikan mati yang cuma bisa mengikuti arus? (lalu hatiku berkata:
Kamu salah nak, ada satu lagi sang pengikut arus : tai pun begitu).
Lalu kamu
bertanya, sebenarnya keadaan seperti apa yang saya inginkan? Saya juga tidak
tahu pasti.
Kemudian
pikiran semakin runyam, Tuhan diatas melipat tangan menunggu permintaan, menunggu
diikutsertakan, menunggu saya melibatkan-Nya. Tuhan menunggu padahal sudah
tidak asing dengan sosok egois, kepala batu, dan Sok tahu seperti saya. Bahkan
saya tidak pandai merangkai permintaan spesifik pada Nya. Saya tidak pandai
bertanggung jawab atas seluruh permintaan saya ke Tuhan. Saat diri sendiri
buntu akan jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang hanya mampu dijawab diri
sendiri, lalu harus bertanya pada siapa? Sim simi? Ato rumput yg bergoyang? Ato
batu yang terdiam? BASI!!
Lalu saya
sampai pada BAB favorit saya pada sebuah buku, didalamnya terdapat BAB berjudul
DOA. Kemudian saya sadar bahwa saya pandai meminta tapi tidak mengerti esensi
dari doa, hanya meminta tanpa disertai dengan usaha maksimal dan kerja keras. Kemudian saya semakin menghujat diri
sendiri, merasa sangat nggateli, merasa sangat biadab pada diri saya sendiri. Merasa
kalah telak dari nafsu. Pura-pura
tidak tahu bahwa salah satu portal penutup jalan saya adalah dosa dan keegoisan
saya pada Tuhan dan diri saya sendiri.
And now I am
trying my best to fight my negative side yang sebenarnya udah hampir menguasai
penuh diri saya sendiri, semoga kembali sehat.
Get well soon
(again) ifmi nurul.
salam sapa manja dari sebuah kedai kopi dengan low internet connection.

0 comments