KOS-KOSAN (PART II) *Kos penuh bencana*

07:42

Hell hellaawwwww, setelah setaun gak ngepost, gue sampe ampir lupa password blog gue, akhirnya terwujud kembali impian dan harapan gue bisa ngepost, karna saat ini diri gue lebih dikuasai 85 persen oleh sisi negatif dari diri gue sendiri ketimbang sisi positifnya sendirih, okeh baikslah kita lanjut sajaa apa yang menjadi tujuan akher dari segalanyahh....

nah in the Next chapter of my post. Post gue yang ini nyambung dengan post gue sebelumnya yang berjudul (kos-kosan I). Gue bakal melanjutkan sharing tentang pengalaman gue yang sudah makan asam garam dalam dunia kos-kosan. Setelah sebelumnya gue punya pengalaman kumpul kebo syariah dan idup sekosan bersama 108 orang. Gue pun memutuskan untuk pindah, kosan gue sebelumnya yang seharusnya minimum pembayaran adalah  6 bulan alias satu semester cuma gue tempati 3 bulan, 3 bulan selanjutnya otomatis gosong, angus. Gue ikhlas dari pada gue yang harus angus dikosan itu. Belajar dari pengalaman-pengalaman menyakitkan sebelumnya, untuk kosan gue selanjutnya gue memutuskan untuk mencari dan mencoba menemukan sendiri, gue harus liat dengan mata kepala gue sendiri.

Akhirnya gue menemukan kosan putri yang kekurangannya bisa gue tolerir, kekurangannya lebih sedikit dari kelebihannya. Beberapa poin terpenting dalam mencari kosan adalah: Kamar luas. Salah satu point yang paling penting menurut gue, ya tapi yang gak luas-luas banget juga, misalnya mau ke kamar mandi sampe kudu sewa gojek dulu, mau ke meja belajar harus naek angkot kan lo yang repot, dan jangan terlalu sempit juga, lo mau nyari kos apa mau latian buat kehidupan di alam kubur kan. I mean cukup luas lah, selanjutnya Kamar mandi, yang ini juga tergantung selera, kalo mau lebih privasi ya carilah kosan dengan kamar mandi dalam, buat yang fine-fine aja kamar mandinya di luar perhatikan kebersihannya (blog ini disponsori oleh mentri sanitasi). Jam malam, jangan sampe lo balik dari kampus jam delapan aja gerbangnya sudah di gembok, atau karna sering banyak yang menggandakan kunci, tiap malam gerbangnya yang di ganti, kan serem. Kemudian faktor Ibu kos, carilah ibu kos yang berhati mulia, kalau bisa ibu kos yang kaya raya, karena kalau ibu kos lo miskin dia pasti membangun kos-kosan bergabung dengan rumahnya sendiri, dan kebanyakan yang seperti ini semua-semuanya di batesin, kan gak asik. Yang terahir adalah harga, carilah kosan yang sesuai dompet lo, eh I mean dompet bokap lo. Jangan karena gengsi lo jadi harus tinggal di kos gedong padahal bokap nyokap dirumah banting tulang tiap lo nagih (#IfmiAnakBerbakti #IfmiSudahDewasa). Sesuaikanlah harga dengan fasilitas yang ada, jangan sampai kosannya biasa, harganya selangit tapi isinya cuma tiker sama sapu, kalau emang gitu, coba lo diem-diem ngecek schedule ibu kos lo seminggu kedepan, kalau dia mau keliling eropa, mungkin lo emang harus laporin ke polisi.

Nah kosan gue yang selanjutnya ini cukup memenuhi kriteria, beberapa diantaranya, kamar mandi dalam dan cukup luas. Gak ada jam malam (bahagia karena gabakal ada yang membatasi waktu gue, bukan yang laen. Beneran), ibu kos dan bapak kos yang gawl abess (mereka baru pada pulang dari USA, pernah tinggal dan menikah disana, balik ke indo kosannya segambreng, nanya-nanya ke gue dikit-dikit pake basa enggres, padahal waktu itu gue cuma tau bahasa inggrisnya: “Fuck you”. Bagusnya lagi mereka gak tinggal dikos dan punya rumah sendiri mhehehehe). Harga kosannya juga masih masuk standart kantong anak kos dengan ekonomi medium (ini yang paling penting). Kosan ini pun baru di renovasi, jadi semua penghuninya baru, so gabakal ada orang-orang yang sok nge-bos. Kosan ini pun bisa ditempati dua orang (kebetulan adek gue bakal kuliah di malang taon depan, biar gue gak pindah—pindah lagi, gue pun mencari kos yang “memungkinkan”) dan gue menemukannya. Gue pun bahagia.

Sekitar pertengahan tahun 2012 Gue pun pindah dari kosan lama, menutup dan mengubur kenangan dikosan itu dalam-dalam. Move on. Menuju tempat baru  dan memulai segalanya (lagi). Day by day semua berlalu begitu saja, masalah yang gue alami dikosan itu paling parah seputar ‘kamar bocor’ dan ‘lampu mati’ yang bisa diatasin dalam sehari dua hari oleh ibu kos gue yang gawl abes. Gue pun bertahan cukup lama di kosan itu dari pertengahan 2012 sampai suatu ketika diawal tahun 2015 kosan itu pun dijual, dan laku. Gue merasa kehidupan gue seperti Cinderella,  Gue sedih, Ibu kos gue yang baik dan gawl abess itu pun ikut pergi dan digantikan oleh bapak kos yang gak banget. Mata duitan. Kumisan (pokoknya satu-satunya cowok kumisan di dunia ini yang gue cintai hanya bokap gue). Kepalanya licin dan bersinar (palanya lebih cerah dari masa depan gue). Awalnya semua berjalan biasa saja, sampai akhinya bapak kos gue mulai menunjukkan sifat dasarnya sebagai lelaki. GAK PEKA. Pas musim ujan kosan gue bocor, udah coba gue aduin tapi bahkan sampe musim ujan berikutnya dia tetap gapeka. Gue telpon dan hubungi berulang kali semua sia-sia gue cuma dapet jawaban lawas (oke nanti saya kesana). Setiap menghubungi karena lampu kosan gue mati, pasti nyuruh beli pakai duit gue dulu nanti di ganti, tapi bahkan sampai lampu kos yang tadi mati sudah mati lagi dan harus diganti lagi, bapak kos gue tetap tidak peka. Tapi giliran waktunya bayar kos atau tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan “money”, bapak kos gue bakal menjadi garda terdepan dan sigap. Bahkan gue baru berniat menghubungi untuk membayar kos, orangnya sudah ada di depan gerbang. Jauh-jauh hari sebelum waktunya tiba, bapak kos Bahkan sudah mengingatkan kalau sebentar lagi waktunya bayar kos, mungkin niatnya emang baik dan mulia, untuk mengingatkan, tapi pikiran negatif sudah menguasi otak gue. Dilihat dari gaya penagihan kosnya pun sudah bisa terlihat.

hempon masih bb*
Penagihan duit kosan oleh ibu kos gue yang gawl abeess. Maapkan basa enggres gue yang tidak pada tempatnya. Kenapa gue kesannya kek mau bakar kosan -,-


Penagihan duit kosan oleh bapak kos gue yang palanya lebih cerah dari masa depan gue.

Hari demi hari sedikit demi sedikit kos gue harganya semakin ngelunjak dengan fasilitas yang tetap seperti biasa, kek pohon pisang, punya jantung tapi gak punya hati, bapak kos gue semakin gak peka, bapak kos gue semakin “karep e dewe” . Karena gak di perbaiki juga, atap bocor jadi dimana-mana, yang biasanya bisa di tampung pake gayung jadi kudu pake baskom. Bahkan novel-novel, buku-buku yang gue cintai serta ijazah SMA gue kena imbas rembesan aer di tembok,  sampai suatu ketika gue tidur siang ujan deres gede banget disertai petir dan angin, terdengar suara reruntuhan yang cukup kencang. Gue pikir hari kiamat ternyata bukan. Gue shock dan keluar dari kamar dan ngeliat atap kosan di bagian dapur ambruk, kosan gue pun seketika  menjelma menjadi ada air terjunnya. Seandainya gue buka untuk wisata, lumayan nih pendapatan uang masuk sama parkirnya. Sempat-sempatnya mikirin duit, akhirnya gue sadar kalau ini bencana, sambil menunggu bantuan datang, akhirnya sekosan berpayung dan ber-rain coat. Sadar hal ini gak bisa di diamkan lagi, mau ngomong buat nyuruh bapak kos gue berubah, siapalah gue di kosan ini hanya sudut ujung sobekan bungkus masako yang udah jamuran di dapur.

Dari pada bertahan nungguin kosan ini benar-benar rubuh  Akhirnya gue memutuskan untuk pindah. Gue gak punya banyak waktu untuk pindah lagi dan nyari kosan, Saat itu dipenghujung 2015. Gue udah ngekos bareng adik gue (IIN) yang kuliah di Universitas negeri Malang sejak 2013, saat itu kuliah gue udah kelar, tinggal menunggu wisuda. Untuk mengisi waktu luang gue mencoba ikut program bahasa inggris di kampung inggris  di Pare, Kediri. Jawa Timur. Dan karena gue dan adik gue gak mau melanjutkan di kos penuh bencana tersebut, sebelum memasuki waktu pembayaran selanjutnya, kosan baru sudah harus di temukan. Dan urusan pencarian dan pindahan kos baru gue serahkan sepenuhnya ke IIN, IIN yang belum berpengalaman dalam pencarian kos-kosan, IIN anak polos yang pas datang ke Malang disaat semua fasilitas sudah ready, and rite now she trying to battle her self looking for something that gonna be our home. Our place. But she isn’t recognize that.


Sampai jumpa di pengalaman kosan gue selanjutnya, kosan terhoror dan yang paling nyesel gue tempati, horor bukan karna makhluk astral tapi karena makhluk real. Can u imagine? 

You Might Also Like

0 comments

Flickr Images

Subscribe