Suatu saat dalam sebuah tidurku, aku bermimpi,
banyak telinga yang mau mendengar dan pikiran yang mau
menerima ke-absurd-an sajakku, sehingga aku populer dan pada akhirnya mati dalam duka cita ribuan pasang mata
yang tak hentinya menitikkan air-nya
,,,,,
semesta membangunkan ku,
aku sadar dan aku sudah kembali ke negeri dongengku,
lagipula Siapa yang tak memimpikan akan pergi tapi tak
dilupakan?
Bukan mati yang aku takutkan, aku hanya takut akan
keterlupaan
Aku butuh banyak jiwa yang bisa mengenangku
Sekarang aku sudah digerogoti maut, aku sakit dan aku tak
ingin menjumpai keterlupaan
,,,,
Kenapa harus takut akan keterlupaan?
Keterlupaan adalah satu hal yang terlalu pasti
Karena Semua akan dilupakan pada waktunya
,,,
Luapkan saja sajak-sajakmu, masa bodoh dengan ke-maha
absurd-an nya,
Jika ada 3 atau bahkan hanya satu org yang masih berdoa
untukmu, kamu kiranya tak pantas untuk takut akan keterlupaan,
,,,
mereka terlalu berarti untuk orang yang bahkan tak bisa
melampiasakn diri dalam lautan sajaknya,
terbenam dalam ketakutan akan keterlupaan,
bahkan tali sepatumu terbahak dalam simpulnya yang kadang
lepas
jika tak mau dipermainkan waktu,
cukupkan dirimu dengan keindahan yang membalutmu sekarang,
cukupkan diri dengan semestamu,
syukur-kan dirimu atas satu orang yang masih peduli
terhadapmu bahkan disaat kamu-pun tidak mampu peduli terhadap dirimu
tak apa jika hanya ada aku dan kamu, semua tak masalah jika
kau menganggap “kita” adalah semesta bagimu
Malang, 27 september 2014