I'll be okay, just not today
19:17
Berdamai dengan tidur tidak
semudah sebelumnya. Pake kipas angin kademen, gak di pake kesumuk’en. Serba
salah. Smart phone pun tidak semenarik biasanya. Belum lagi karena sputum yang
tidak habis-habis dari tenggorokan saya.
Problem lainnya adalah, saya tidak punya bantal guling. Itu semua faktor
eksternal. Yang paling menjadi “karena” dalam hal ini adalah faktor internal.
Pikiran saya lagi bobrok-bobroknya emang. Saya sedang berada pada suatu keadaan
yang tidak saya inginkan. Ini adalah bukti bahwa Allah adalah Maha Memaksa. Dan
saya sedang mencari alasan mengapa saya berada dikeadaan ini. Semua karena saya
tidak tahu bagaimana cara kerja Allah. Saya hanya manusia jelata. Allah Azza wa
Jalla.
Lama tidak menjamah ranah ini.
Bukannya rindu. Saya cuma tidah tahu harus mengutarakan kemana rasa membeludak
dalam otak dan dada sebelah kiri saya. Saya tidak sedang bahagia. Saya tidak
sedang jatuh cinta. Pikiran saya lagi kacau-kacaunya. Saya merasa sedang
tersesat di tempat yang benar (mugo ae). Lost in the right place. Itu yang saya
harapkan. Saya berdiri diujung satu-satunya jalan, dari sini saya bisa melihat
di depan jalan yang akan saya lalui ini, ada preman yang sedang menari-nari
dengan belati di tangan kanan, botol bir hampir habis ditangan kiri, dan
anjing-anjing yang terikat di rantai menjalak-jalak. Cuma bisa menghela nafas dan mengusap
keringat. Karena saya berjalan hanya ditemani oleh “ketakutan”. Lama mencari
info dimana saya bisa membeli dan mendapatkan keberanian dengan “uang” tapi
hasilnya nihil. Saya masih hanya dengan “ketakutan” dia erat menggenggam jari
telunjuk saya seperti anak yang akan menyeberang jalan bersama ibunya. Tujuan
saya adalah sebuah pantai dengan ayunan diujung sana. Katanya matahari
terbitnya bagus.
Saya pernah menjadi bagian dalam
keagungan, sebelum sekarang menjadi upik abu. Mungkin saya dulu kurang
bersyukur. Allah Maha pemberi pelajaran. Allah juga Al-gaffar. At least saya
jadi tahu dan belajar banyak hal, tentang perbedaan saat berada pada Zenith dan
bagaimana saat berada pada Nadir. Semoga Allah masih memberi kesempatan
menyentuh Zenith kembali.
Dan lagi, Saya bukan orang yang
pintar dalam hal yang tidak saya inginkan “ini”, saya juga bukan orang yang
jago beradaptasi. Karna itu, proses menemui “teman” dalam hal ini akan sangat
lama. Maksut saya teman langit. Teman yang bisa sembarang dipisuhi dan tidak
ngamuk.
Am an actress on my own cinema,
dan sekarang lagi ada di scene sedih-sedihnya. Sayangnya kita tidak
diperkenankan membaca apalagi sampai mengedit script nya, script spontan.
Masuk ke suatu lingkungan yang
sangat baru, bukanlah perkara mudah. Walaupun hal ini bukan terhitung hal yang
baru bagi saya, tapi tetap saja semua yang “menyakitkan” pasti tidak enak. Banyak hal
yang harus saya susun dan mulai dari awal lagi. Teman, lingkungan, cara
pandang, pola pikir, semua harus kembali disesuaikan. Terbiasa melakukan segala
sesuatunya dengan bantuan orang lain, sekarang saya benar-benar harus mencambuk
diri saya sendiri. Melakukan semuanya just by my own self. And it’s not easy, yang
hanya bisa saya lakukan sekarang hanyalah menunggu. Menunggu kapan semuanya
bisa singkron dan sesuai (lagi). Segala sesuatu tentunya membutuhkan proses,
dan tidak semua proses adalah menyenangkan. Dan saya sedang menikmati kejamnya
proses tersebut. Untuk bertahan saya hanya bermodalkan rasa hormat pada kedua
orang tua saya. Mereka alasan terkuat saya sanggup berdiri sendiri, mereka yang
menopang kedua kaki saya, menopang sendi di lutut dan pergelangannya, menopang semuanya
dari kejauhan dengan semangat dan doa. Saya berharap Allah masih memberikan
kesempatan kami berkumpul untuk waktu yang lebih lama dan lebih lama lagi. Saya
ingin menujukkan bahwa yang mereka lakukan selama ini tidak percuma dan
sia-sia. Untuk apa bisa berlari sendiri hidup didunia dalam bahagia, sementara
ayah dan ibu mu tidak bangga?
Sendiri itu unpredictable.
Sendiri itu menyakitkan. Sendiri itu berkorban. Sendiri itu menyayat. Sendiri
itu seuzon. Sendiri itu maki. Sendiri itu kedurjanaan. Sendiri itu mencekam.
Sendiri itu kelam. Sendiri itu ketakutan. Sendiri itu capek. Sendiri itu
misuh-misuh. Sendiri itu tahiklah pokoknya!
Tapi sendiri itu membentuk.
Sendiri itu perlawanan. Sendiri itu menyadarkan. Sendiri itu belajar. Sendiri
itu menguatkan. Sendiri itu mengembalikan. Sendiri itu membuka pikiran. Sendiri
itu menghargai. Sendiri itu tabah. Sendiri itu meberanikan. Sendiri itu
menangguhkan. Sendiri itu self control. Sendiri itu handal. Sendiri itu
melatih. Sendiri itu meneguhkan. Dan sendiri itu tidaklah sebenarnya sendiri.
Bagi saya “sendiri” bukan tentang
ada atau tidaknya pasangan. “pasangan” saat ini mungkin hanya menjadi faktor
bonus untuk saya. Bekas luka dari hantaman hebat pada hati saya beberapa waktu
lalu masih sangat membekas. Ternyata proses sembuhnya lebih lama dari yang saya
duga. “sendiri” adalah disaat kamu hanya bisa percaya pada dirimu sendiri. Mereka
yang terbiasa kamu handalkan, bukan tidak mau lagi membantumu, hanya saja
mereka tidak bisa. Ibarat kata, kita boleh belajar bareng, tapi ujiannya tetap
sendiri-sendiri dengan soal ujian yang berbeda-beda. Yup! Ujian Hidup.
Saya belajar dari ilmu keramik,
berawal dari sebongkah kotor tanah liat, untuk menjadi indah harus di bentuk
dan dibakar dalam suhu yang tinggi terlebih dahulu. Saya yakin sekarang saya
lagi proses pembentukan, masih ada lagi proses pembakaran setelahnya. Berharap berahir
sesuai ekspektasi, ya, walaupun kita semua tahu, pada akhirnya tidak semua keramik
indah dimata orang. Allahu alam..
Tulungagung, 27 Juli 2016.
Ifmi Nurul.

1 comments
sepertinya saya adalah calon keramik yang akan di panaskan itu, sebab bau asap dari pembakaran sudah tercium.
ReplyDeleteAllahualam