1000 Paper Cranes (Tsuru)

02:51




Holaaa world!!!!!!!!!!
Am backkk! \o/
Mari kita bercakap-cakap dan ber-sharing-ria tentang apa yang sudah kita lewatkan beberapa hari ini! (bahasamu nggaple’i jhoon –“)
Mhihik Karepku lah! -,-
Baiklah, Buat yang belom tau, hallo nama gue Ifmi. Buat yang udah tau, well, ng. . . nama gue masih tetap Ifmi. (what? Am i weird? Ng . . well forget it) yak! Gue anak semester lapan jurusan Ilmu Keperawatan Universitas Brawijaya Malang, seperti anak semester lapan pada umumnya, sekarang gue lagi di sibuk kan dengan skripsi dan mengejar tanda tangan dosen. Nah dilihat dari judul dan gambar pertama yang muncul pada postingan gue kali ini, gue akan berbicara agak sedikit banyak tentang origami, Kebetulan, skripsi gue melibatkan origami di dalamnya, tapi gak usah pengen kepo tentang judul, desain penelitian atau mungkin daftar pustaka dari skripsi gue, karena gue udah muakk dengan all of it (hehe becanda --,) dan itu mengapa sekarang gue lagi keranjingan buat origami terutama “Crane” . You know crane rite?
Ya buat elo yang kurang gahool dan gatau apa itu origami, ini gue kasitau. Origami itu seni melipat kertas, asal muasalnya dari jepang. Kerena skripsi gue ini, gue jadi banyak kepo tentang apa itu origami, sejarah dan seluk beluknya, ternyata menarik banget loh! Jadi begini ceritanya:

Origami diambil dari bahasa jepang dimana Ori = Melipat dan Kami = Kertas, nah origami ini dipercaya sudah ada dari jaman dahulu kala banget. Jauh sebelum gue daftar snmptn, jauh sebelum Presiden Soekarno membacakan proklamasi. Pokoknya jauh banget deh. Biar lo gak penasaran seberapa jauhnya, nih gue bocorin, origami sudah ada sejak tahun 105 Masehi mennn! (yaelah segitu doank! Masih lebih jauh taon 104 Masehi donk, atau jaman nabi adam -,-) Ng. . . well maybe lo bener, mungkin gue cukup bilang dahulu kala doank, gausa pake banget gitu ya ( yaa, boleh lah --,). Emang kampret lo pada -,- Okay lanjut bangg! Tapi pada awalnya origami gak lahir di Jepang, ini bermula semenjak kertas di temukan, yaitu pada abad pertama  tempatnya di tiongkok (china), yang diperkenalkan oleh seorang kaisar China yang bernama *sebut saja bunga*.

Beberapa ratus tahun setelah itu yaitu tahun 610 M seorang biksu yang berasal dari korea *sebut saja namanya daun* mulai memperkenalkan kertas dan tinta ke Jepang. Nah sejak saat itu Origami  jadi populer di Jepang secara turun-temurun bahkan menjadi suatu kebudayaan orang Jepang dalam keagamaan yang di sebut Shinto (ini bukan guru wirosableng). Pada awalnya orang hanya mengetahui beberapa bentuk origami saja, seperti bangau di Jepang dan pajarita di Spanyol, tapi seiring berjalannya waktu, ada seorang Jepang yang di utus malaikat bukan untuk membantunya menyulam jaring laba-laba belang di tembok kraton putih, bukan. Tapi untuk membuat perubahan besar dalam dunia per-origami-an, dia menciptakan sebuah penggambaran sistematis untuk menunjukkan langkah-langkah pelipatan suatu model yang dapat di sebarluaskan dan dipahami oleh banyak pihak, nama sistemnya adalah Yoshizawa-Randlett,  yang sampe sekarang lazim digunakan untuk instruksi lipat model Origami.

Nah terlepas dari sejarah tersebut, terlepas dari bunga dan daun di atas, mari kita berbicara tentang Paper Crane, ada kisah yang sangat menyentuh di balik bangau kertas ini, jadi ceritanya begini:


Tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 menandai sejarah kelam umat manusia. Sebuah pengalaman pahit, sekaligus pelajaran berharga. Setiap tanggal 6 Agustus bangsa jepang memperingati peristiwa jatuhnya bom atom di Kota Hiroshima, yang diikuti oleh bencana serupa di Nagasaki 3 hari kemudian. “Hiroshima Peace Memorial Park” yang menjadi lokasi annual ceremony ini. “Hiroshima Heiwan Kinen Koen” (Heiwan = perdamaian, Kinen = peringatan, Koen = taman) terletak di tengah Kota Hiroshima, tepat di lokasi jatuhnya bom. Kini, jutaan orang yang berkunjung ketempat itu dapat menyaksikan monumen-monumen yang dibangun untuk mengenang para korban, sekaligus menjadi symbol perdamaian dunia. Monumen yang menjadi landmark disini adalah Hiroshima peace memorial (terkenal juga sebagai A-Bomb Dome) dan Memorial Cenotaph. ABomb Dome salah satu situs warisan dunia (UNESCO World Heritage Site) adalah gedung yang paling dekat lokasinya dengan pusat ledakan dan sampai sekarang dibiarkan seperti aslinya, dengan kubah yang hanya tinggal kerangka.
 
A-Bomb Dome

Sedangkan ‘cenotaph’ secara harafiah juga berarti monument yang dibangun untuk mengenang orang yang jasadnya terkubur entah dimana. Selain kedua monumen itu, yang menarik perhatian pengunjung adalah jutaan burung bangau dari kertas warna warni orgami. Rangkaian bangau kertas itu digantung dalam ruang ruang kaca yang terdapat di lokasi Children’s Peace Monument.



Ada cerita menarik, inspiratif dan menyentuh di balik bangau-bangau kertas itu. cekidotttss!

Sadako Sasasi, seorang gadis kecil di Hiroshima, yang menjadi inspirasi di balik jutaan bangau kertas itu. Ia tinggal bersama keluarganya di dekat Misasa Bridge, tidak jauh dari Ground Zero, lokasi jatuhnya bom atom. Sadako-chan (chan = panggilan bagi anak perempuan) baru berusia dua tahun saat bencana mengerikan itu menimpa kota kelahirannya. Mulanya ia tampak sehat dan baik-baik saja, segalanya berjalan normal seakan tidak terjadi apa-apa. Baru beberapa tehun kemudian, tepatnya di bulan November 1954 saat menginjak usia 9 tahun, mulai timbul gejala-gejala aneh di tubuhnya. Di usia 10 tahun Sadako-chan divonis menderita leukemia, salah satu penyakit yang bisa timbul akibat dampak radiasi bom atom. Ia kemudian terpaksa harus menghabiskan hari-harinya terbaring dirumah sakit.
Suatu hari, Chizuko Hamamoto, sahabat Sadako-chan, datang menjenguk dan menghadiahinya sebuah kertas origami berwarna emas, berbentuk burung bangau (Jepang: tsuru, inggris: crane). Di Jepang tsuru adalah hewan yang dianggap suci. Alkisah burung ini dapat mencapai usia 1000 tahun, sehingga dipandang sebagai lambang perdamaian dan umur panjang.


Tertarik mendengar kisah itu, Sadako-chan pun mulai berusaha membuat 1000 tsuru, berharap dengan begitu permohonannya untuk sembuh dan berumur panjang akan terwujud. Tak ada kertas emas, kertas apa pun ia gunakan – mulai dari kertas bekas bungkus obat, sampai kertas bekas bungkus kado yang ia peroleh dari hasil berkeliling ke kamar pasien-pasien lain. Chizuko-chan juga membantu membawakan kertas bekas dari sekolah.

Menurut legenda, Sadako tidak berhasil melipat 1000 bangau kertas, ia hanya berhasil melipat 644 sebelum meninggal, lalu teman-temannya melanjutkan usaha Sadako hingga mencapai 1000 bangau kertas. Mereka kemudian mengubur semuanya bersama Sadako. (Versi ini diambil dari buku "Sadako and The Thousands Paper Cranes”)



Kisah hidup dan perjuangannya menjadi inspirasi bagi publik jepang, terutama teman-temannya yang kemudian berupaya mengumpulkan dana untuk membangun sebuah monumen peringatan guna mengenang Sadako-chan, maupun ribuan anak lainnya yang menjadi korban dampak ledakan bom atom.


Tiga tahun satelah ia berpulang , di Hiroshima Peace Memorial diresmikan sebuah patung yang mengambarkan Sadako-chan dan bangau kertasnya. Patung serupa juga dibangun di Seattle peace Park. Pada kakinya tertulis: “This is our cry. This is our prayer. Peace on Earth.” (Inilah jeritan kami. Inilah doa kami. Damai di bumi)


Sampai sekarang kisah Sadako-chan masih terus dituturkan di sekolah-sekolah saat memperingati peristiwa Hiroshima-Nagasaki. Tanggal 6 Agustus ditetapkan sebagai Sadako peace Day oleh bangsa jepang. Children’s Peace Monument di Hiroshima dinamakan juga ‘Tower of a Thousand Cranes’, karena menampung ribuan bahkan jutaan origami kiriman dari anak-anak sekolah untuk mengenang Sadako-chan, yang tidak hanya berasal dari seluruh jepang, namun juga dari berbagai belahan dunia. Bangau-bangau kertas itu kini tidak hanya sekedar simbol tradisi kuno bangsa jepang, namun telah menjadi simbol perdamaian dunia.

            Okay, ceritanya udah kelar. Gimana? Terharu gak lo? Kalo enggak coba sekarang pergi ke dapur, cari pisau terus lo congkel2 di bagian dada sebelah kiri, coba lo liat jantung lo masih ada gak? Kalo emang gada, ya pantes aja lo gak berasa apa-apa sama cerita ini. Dasar makhluk astral lo!
          Nah akibat Sadako-Chan ini lah gue sekarang jadi keranjingan buat bangau kertas, ya tapi gak nyampe 1000 juga sih, paling juga ntar bosen sendiri HAHAHA. Mau liat hasil gue gak? (Ora sudi!) MAU GAK MAU HARUS MAU POKOKNYAHHHHHHHH! Ini diahh --,



Gak Cuma itu, dimanapun gue berada, asal liat kertas nganggur kayak struk alpamat, struk ATM, bungkus permen karet, dan laen laen, tangan gue langsung tergerak untuk membuat Paper Crane, Ini entah ini si Sadako lagi ngerasukin gue, atau gue masih terbawa suasana dengan kisah haru si Sadako-Chan ini. Ini juga yang membuat gue selalu membawa Origami paper dimanapun gue berada, nah ketika ada waktu luang, disaat gue lagi boring dengerin kuliah, boring nungguin dosen, boring nunggu jodoh, guepun mulai melipat-lipat kertas, dan secara gak sadar sekarang Paper Cranes gue udah tiga toples ajah hehehehe. Gak Cuma itu, biar kertas yang udah gue lipat ini sedikit berguna, gue me-replace pembatas semua novel-novel gue dengan Paper Cranes, kek gini inih, lucu kan \o/


Terimakasih Sadako Chan sudah menginspirasi satu hal ke gue, terus berusaha walaupun hanya sedikit kemungkinan dan harapan, Rest In Peace Sadako-chan........


You Might Also Like

2 comments

Flickr Images

Subscribe