Time to Say Goodbye and thanks .....
03:31
Salamlekom!
long time gak visit ke blog gue sendiri, gak kerasa taun 2016 ini udah menjamah Februari aje, okelah todepoin sajalahya...
Ini adalah postingan terpanas
yang pernah gue buat. Ini bukan tentang mbak miyabi atau karena pas ngepost
leptop nya lagi diatas kompor, bukan. Ya gak panas-panas yang gimna-gimana juga sih, ya minimal
anget-anget kuku lah ._. (Yak! postingan anget-anget kuku). Ng...Oke Mari kita teruskan. Pada tanggal 11 Januari 2015
kemaren, seharusnya gue sudah mulai menggunakan seragam putih-putih kebanggaan
semua perawat di Indonesia, hari pertama memasuki ranah/dunia propesi, hari yang
ditunggu-tunggu, karena seharusnya gue bakal memasuki the last step dari
perjalanan panjang memasuki tahun ke 5 susah senang dikampus. Tetapi pada hari
itu, setelah memikirkan apa yang bakal gue terima, apa yang bakal gue adepin,
termasuk bagaimana konsekuensi nantinya, hari itu gue resmi meletakkan berkas
‘resign’ gue dimeja akademik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang,
iya gue memilih untuk tidak mengikuti propesi, propesi yang sifatnya ‘wajib’
dan gabakal ada kesempatan buat balik, seadainya dikemudian hari nanti terbesit
kata “menyesal”. Iya, gue memilih buat pergi dan meninggalkan apa yang orang
banggakan terhadap diri gue selama ini (read: orang tua). Gue memilih
menyia-nyiakan 4 tahun yang sudah gue perjuangin. Gue memilih untuk tidak
bertahan, dan melepaskan. Meninggalkan teman-teman gue dan lingkungan gue
disini. But please, dont hate something that you dont understand why. Kalo
kemaren-kemaren banyak temen-temen yang nanyak ke gue lewat medsos gue mastiin
gue beneran out apa enggak, iyak jawabannya “BENER”. Semua orang punya alasan,
well mungkin banyak yang bakal berfikir, “eww stupid decision” “halaaah labil
aja tar juga nyesel” “ya ampun tu orang gak berfikir apa, empat taun di
korbanin gitu aja” “jangan Cuma mikir diri sendiri, pikirin org tua lo juga
begok” dan laen laen dan lean lean.
Talk about my reason, exactly
this is truly hard to explain why. Ibarat pepatah ya, “yang bukan siapa-siapa,
mana mungkin bisa jadi apa-apa”. Nah gue pengen banget jadi “apa-apa” tapi
disini gue bukan “siapa-siapa”, I wanna be “someone” but am just “no one” here.
Pikiran semacam ini sudah terbesit dalam lubuk sanubari gur sejak memasuki
tahun ke 2 di kampus (semester 3) I tried to ask others opinion about what
should I do, dari kesimpulan pada waktu itu, gue berfikir, mungkin ini hanya
masalah waktu, gue harus mencoba buat mencintai apa yang gue lakuin, mencintai
lingkungan gue, dan gue memilih untuk bertahan. But see? Sampe sekarang
memasuki tahun ke 5, gue tetap bukanlah siapa-siapa disini, gue masih seorang
piguran, sedih men. Banyak contoh manusia disekitar gue, yang sifatnya they can
do everything well even they are not love that things. Beda sama gue, kalo gak
suka ya gak suka, and you know, sangat susah memaksakan sesuatu yang
benar-benar bukan diri kita.
Exactly there is no reason people
hold me here (yang pertahanin lu juga siapa pea). Gue gak bisa bersaing disini,
walaupun perjalanan selama ini lancar-lancar saja, tapi gue gabisa ngebohongin
diri gue sendiri, bahwa gue gabisa selamanya ada di bawah terus, mungkin gak
banyak yang menyadari, bahwa gue juga pengen banget kek mereka, they can do
everything well, everyone knew them, they famous because of something good, but
how about me? Dosen-dosen paling gabakal tahu siapa “ifmi” kalo bukan dari UK
SP UK SP UK SP yang selalu mengisi 4 tahun perjalanan gue. Untungnya semua
terselesaikan tepat waktu. Hal ini sebenarnya sangat-sangat-sangatlah
menyakitkan, mungkin dosen-dosen mulai muak dengan muka gue dan gue juga gak
pengen keadaan kek gini membebankan orang tua gue, dengan nilai yang gak pernah
ada baiknya. Exactly I need to proud them, i also hate this situation. HOW
ABOUT ME? HOW ABOUT ME??? I really want to be like you gals. But I cant get it
here. Thats why I need to go. I need to out of here. I need to find mine.
Keputusan ini emang gak ringan,
gue mempertaruhkan banyak hal untuk ini. But life is all about the second
chance. Disatu sisi, gue memilih untuk mengorbankan semuanya, apa yang sudah
gue lalui 4 tahun terahir, duit, tenaga, waktu, pikiran, harus di relain buat
sesuatu yang belum pasti (masa depan dan impian gue). Siapa-siapa juga sekarang
pasti berfikir, “dih bego banget final decisionnya”. Tapi biar bagaimanapun,
this is my life, gue yang menjalani semuanya, I’ll handle everything by my
self, I’ll do everything by my self. Jadilah sebagaimana kamu ingin menjadi,
bukan bagaimana yang ingin mereka lihat. They just the audience, I am the real
actress, and I need to change my story.
Mungkin lo bertanya-tanya,
bagaimana dari sisi orang tua gue? FYI, gue anak pertama dari 4 bersaudara,
adik gue yang pertama sekarang semester 6 di Universitas Negeri Malang (UM),
adik gue yang dua terahir adalah kembar dan sekarang kelas 3 SMA. Jadi anak
pertama itu gak gampang man, u need to be a role model for your sister/brother,
you need to show them how to be a good one. Padahal, menjadi anak pertama,
bukan berarti harus menjadi yang pertama sukses. Nah kemarin ada satu hal yang
sudah menambah luka buat orang tua gue, begini ceritanya:
Dalam setahun, kampus gue
mengadakan dua gelombang yudisium, pada Juni tahun 2014 kemaren gue gabisa
mengikuti yudisium satu dikarenakan nilai yang belum cukup, thats why I need to
wait for UK, Ujian perbaikan gitu dan menyebabkan gue harus menunggu yudisium
selanjutnya, gue pun wisuda tepat di penghujung tahun ahir gue di kampus, tepat
waktu exactly. Tetapi orang tua gue sudah menganggap gue gagal, karena gabisa
mengikuti yudisium gelombang pertama, orang tua gue terutama bokap gue adalah
orang yang susah menerima kegagalan, karena dari perjalanan hidup beliau, he
always done everything well, always being the best, of course he want it happen
to his daughter/son. Because of my failed, they try to compared me with other
people, terutama adik gue, sebenarnya gue juga bisa dibilang iri sama adik gue,
kenapa? My great sister who they (my parents) always compared to me, she did everything
well, nilai yang baik, beasiswa yang jalan terus, gak boros dan gak malas pula,
idup dimalang bareng sekos, sekamar, seranjang for almost 3 years, gue gak pernah
benci sama adek gue karna hal ini, lebih tepatnya mungkin “malu”. Setelah
stempel “gagal” melekat dijidat gue dan bad news nya, sekarang I decided to
“end everything” bisa lo bayangkan gimana kecewanya mereka? Gimana sakitnya
mereka. Sebenarnya, setelah gue cerita baik-baik dan menjelaskan alasannya, the
reason why I’ve to go, mereka ternyata setuju dan support to me, karena biar
bagaimanapun, I got 22 rite know, gue seharusnya sudah bisa memilih jalan gue
sendiri, they support me, they always in my back, tapi sebaik apapun yang
mereka tunjukin ke gue, gue tahu jauh dilubuk hati paling dalamnya mereka
sedang kecewa-kecewanya sama gue anak pertamanya, gue yang seharusnya become a
role model to my brother and sister. Malah milih mengubah jalur. Yah life is
all about choices. Am so sorry I cant be your perfect one, dad...
Itu adalah salah satu alasan gue
bertahan dimalang dan memilih untuk gak pulang, sumbawa jauh, terahir pulang
adalah februari taun lalu, bahkan lebaranpun gue stay di malang, karena pulang
tanpa membawa sesuatu yang bisa dibanggakan adalah hal yang memalukan menurut
gue, orang tua gue juga sempet nyaranin untuk pulang aja, buat lebaran, ngumpul
bareng keluarga. Tapi rasa malu gue lebih besar dari pada rasa kangen gue. Bad
news nya adaaaaaa aja mulut-mulut yang gak bertanggung jawab karen gue gak
pulang ini, btw gue sempat digosipkan hamil dan akan menikah diahir tahun
kemaren, gara-gara udah setaun gak pulang (BHAHAHAHAK), gatau disini gue
berjuang sampe asam lambung jadi manis, malah dikira beranak -,- HAHAHA
jangankan anak, pacar aja boro-boro hiyaelahhhhh, tapi bukan omongan orang yang
gue takutkan bukan pikiran orang yang gue masalahkan, tapi semua all about my
parents, how they treat me in this condition. How I thanks them for everything
they have done to me, Gue merasa sangat malu sebenarnya. Once again, am so sorry
dad. Kalo banyak yang bilang keputusan gue buat resign karena Cuma mentingin
diri sendiri, lo salah besar men, itu justru karena gue sangat mikirin gimana
perasaan orang tua gue selama ini.
Bicara tentang lingkungan gue di
kampus, bagaimana teman-teman sekelas gue, gue anak yang berbaur dengan siapa
aja, gue punya teman-teman kelas yang asik, teman-teman yang bisa dibilang match,
guepun berbaur dengan anak-anak yang sebut saja pintar, rajin, always prepared
and excited for everything, for class, for exam, for persentation. Kata orang, sifat
dan karakter itu tergantung lingkungan, tergantung teman maen, kalo mau good ya
maennya sama orang-orang good juga, yang rajin dan pinter, yahhhhhhh mau maen
sama albert einstein pun kalo dari diri sendiri emang gak suka ya sama aja
boong, tapi itu “kata orang” juga ada benernya, bergaul sama mereka membuat gue
berfikir, gue pengen kek mereka, semangat dan rajin-rajin bener kalo nugas dan
exam, itu kenapa sekarang gue berani buat ngambil langkah yang besar buat diri
gue. Gue pasti kangen banget sama kalian guys, invite me for ur next gath day
haha. I love you K3LN
Bicara tentang perawat. Disini
gue out bukan karena perawat adalah sesuatu yang bad, tapi di kondisi ini
guelah yang bad, guelah yang gabisa berkembang. Mungkin kalau gue memilih untuk
bertahan, sebenarnya bisa, tapi ya segini-segini aja, gue gabakal berkembang
dan tetap menjadi seorang piguran, I dont wanna it happen. Cinta gapernah bisa
dipaksakan, ada saatnya lo harus melepaskan, menyadari seberapa bnyakpun lo
berkorban, sebanyak apapun waktu yang lo luangkan, sebesar apapun duit yang lo
keluarkan, gabakal bisa buat lo cinta. Setidaknya, tempat ini sudah memberikan
banyak pelajaran tentang bagaimana menyikapi hal yang kita cintai. Buat bapak
dan ibu dosen yang dengan sabar menghadapi saya, dosen PA, dosbing skripsi,
sekjur, kajur yang sudah terlibat dalam proses resign saya, saya ucapkan banyak
terimakasih.
For the last thing, lets talk
about Malang, malang sudah memberikan banyak cerita, banyak kisah, about
friendship, about love, about come and go, about people who always leave, kota
kabut yang selalu lebih dingin dari kota lainnya ini gue akuin susah buat
meninggalkan dan pergi, malang sudah menjadi comfort zone area gue, setiap
sudutnya selalu bisa buat jatuh cinta, terutama book store nya, haha comfort
zone emang membuat kita nyaman, betah, menarik buat tetap stay, comfort zone is
a beautiful place but you know, nothing ever grows there. Terima kasih
Brawijaya, terimakasih perawat, terimakasih K3LN, terimakasi Malang. I am ready
to go, I’ll never forget this fvckn beautiful memories. Seeeyaaaaaaah ...
I bet! Pertanyaan pertama yang
terlintas dibenak lo adalah “trus abis ini lo mau kemana?”
.......Loading.......

0 comments