Tak Ada Hal Sekecil Apapun yang terjadi karena kebetulan, Right?
12:52
Hidup dan nasip, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan
sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah
desain holistik yang sempurna.Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan
bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta
penciptaan yang tak terbantahkan
Wuuiiihhhhhh, udah mantep belom? Mantep banget dong, Ini
kalimat-kalimat saik yang di interpretasikan mas Andrea Hirata dari pemikiran
agung seorang Harun Yahya, pada kenal harun yahya kan? Kalo enggak, mending
cepet-cepet kenalan. . .
Oke lanjot. . .
Kelas “DK” atau yang di
perpanjang menjadi Kelas DisKusi, adalah sebuah kegiatan rutin dalam
pembelajaran di kampus gue tercintah, kira-kira gue sudah mengikuti kelas DK
hampir sekitar ratusan juta hingga milyaran kali, dari semester 1 sampai kini menginjak
semester 7 gue masih dengan setia mengikuti kelas DK ini, itu kenapa gue mulai
rada muak dan bosen dengan segala hal mengenai DK. DK ini adalah kelas sharing
oleh kelompok kecil berjumlah sekitar 8-10 orang dan dilengkapi dengan seorang
moderator dari dosen gue sendiri, oke jangan mentang-mentang gue bilang sharing
dan lu mempersepsikan ini kelas curhat, dimna lu bisa nge-share tentang kasus
PHP, PDKT, mantan, kang galon yang ternyata cakep dan buat lu deg-degan,
gebetan yang bikin ilfil dan laen sebagenyaa. Bukan, kelas ini di pake sharing
tentang kasus-kasus penyakit yang menjadi bahan tugas gue sebage seorang calon
tenaga kesehatan. Yups, seriously! someday. . . .
Ada yang berbeda dari kegiatan DK
kali ini, selaen kelarnya lebih cepet satu jam dari waktu biasanya, kelompok
gue dapat moderator seorang dosen yang tampaknya baru ter-sihir oleh betapa amazing-nya
pembelajaran di negeri paman sam, karena beliau emang baru menyelsaikan studi
S3-nya disana. Oke sebut saja namanya ibu peri.
Setelah DK kelar, karena masih
ada waktu tersisa 1 jam, akhirnya di buat menjadi sesi perkenalan, memang ibu
peri baru pernah bertemu kami, karena beliau harus tinggal beberapa taun di
yu-es-e! Yang menarik di perkenalan kali ini semuanya ngingetin gue dengan jaman
gue masih unyu masih semester satu dimana satu semester pertama pembelajaran di
pake buat sesi perkenalan dan juga di sesi perkenalan pada penghujung DK ini, selain
menanyakan nama dan asal kami, ibu peri juga nanyain tentang “how ur explain
about nurse”
. . .
Dulu pas kelas 3 SMA waktu
galau-galaunya memilih jurusan untuk kuliah, gue sempat tertarik di jurusan
bahasa atau seni rupa, karena gue punya hobby menggambar dan menulis kayak gini
ini, tapi gue kurang tertarik kalau pada akhirnya gue harus menjadi seorang
guru, kenapa? i don’t know why. Di satu sisi lainnya keluarga gue mendukung
untuk jadi tenaga kesehatan, dan gue bebas milih untuk jadi apa, tapi gue
selalu kagum dengan tenaga kesehatan, khususnya yang paling sering gue jumpai kalo
lagi di rumah sakit, pagi, siang, sore, malem, dia bakal bekeliaran dan ada di
manapun. Perawat!
Berat sebenarnya karena gue harus
gak berkutat di dalam sesuatu yang sesuai skill gue, dari TK gue gak pernah
bahagia dengan eksak. Walopun gue, semesta dan alam raya suka gue untuk
menggambar dan menulis Tapi Tuhan rupanya lebih seneng dan pengen gue jadi
perawat. Yups Gue lulus di Jurusan Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya Malang taon 2011.
gue gak kecewa, karena gue masih
bisa jadi perawat sambil tetap menulis dan menggambar tapi gue gabakal bisa
milih menulis atau menggambar sambil jadi perawat.
. . .
Perawat.nurse.suster. What the
first thing in your mind when i say that words?
Pembantu dokter? Tenaga kesehatan
terendah? Tenaga kesehatan terbanyak di dunia? Jalannya ngesot? Suka keramas? Or
what??
Yups lu semua gak salah berfikir
kayak gitu, lu cuma belum ngeliat semuanya lebih dekat, kata gaul-nya sih
“belom di zoom-in”. Pada awalnya gue gak ngerasa aneh dengan jurusan ini, sampe
pada suatu hari dimana tiap dosen yang masuk pasti nanyain “yang masuk kesini karena
nyasar atau terpaksa ada gak?” daaaan sebagian besar isi kelas gue ngacungin
tangan. Entah gue yang cupu, katro dan terlalu kuper atau temen-temen gue yang pergaulannya
terlalu tinggi dan selalu aptudet, dari 58 org mahasiswa di kelas gue waktu itu
mungkin hanya 3-5 org yang memilih untuk menjadi perawat karena “emang itu
pilihan gue”. Sebagaian besar mereka ngaku perawat adalah pilihan terahir
disaat kuliah menjadi satu-satunya jalan buat masa depan yang lebih cerah, sampe
gue berfikir “wah ada yang gak bener nih, am i in the wrong place too?”
Pas gue baru keterima di jurusan
ini, dengan excited-nya gue nyampe-in kabar bahagia ini ke kakek dan nenek gue
by phone, tapi bukannya bahagia, beliau malah kecewa dan bilang :
K : “Cuma perawat? Kenapa bukan bidan
atau dokter?” gue pun terpaku, bengong nanya balik
G : “lah emng kalo perawat kenapa?”
K :
anaknya pak supri perawat, anaknya bu ningsih perawat, anaknya paijo perawat,
anaknya si salim juga perawat, dan mereka gak jadi apapun di rumah sakit, gak
bisa ngapa-ngapain kalo gak di suruh dokter, lagian gajinya dikit. Ya tapi
kalau km suka gapapa, jalanin aja semuanya”
G : ng . . Oke ._.
Keterangan:
K = Kakek
K = Kakek
G = Gue
Tapi semua itu malah buat gue
terus berfikir dan sedikit tertantang, Cuma ingin ngebuktiin ke orang-orang
semuanya tidak se-simple yang mereka bayangkan, bahwa perawat bisa lebih tinggi
dari apa yang mereka pikirkan. Hari demi hari kuliah gue jalanin, dari semster
1 sampe sekarang semster 7, walopun mulai muak dengan rutinitas yang itu-itu
saja, tapi gue enjoy sama semuanya, sampe detik ini di perkenalan di ujung DK,
satu temen gue mengatakan, bahwa gada satu hal pun yang terjadi di dunia ini
karena kebetulan.
Yups! Gue yakin Tuhan punya
rencana terbaik untuk jalan hidup manusia, mungkin sekarang lu belum mengerti
kenapa lu harus berdiri di tempat lu sekarang, mungkin Tuhan gak pengen gue
jadi dokter karena gue bakal geger otak dengan materinya, gak jadi bidan karena
bakal menyakiti calon-calon manusia yang baru pertama melihat dunia. Berpikir
positip, gak cukup hanya ngelakuin hal baik tapi harus yang terbaik! Because,
you get serve what you deserve!
Hehehe hehe he
0 comments